saya pernah menciptakan tuhan

April 14th, 2008 by vickyandrew

"Manusia tidak dapat menciptakan cacing. Namun manusia dapat menciptakan tuhan."

tuhan, dengan ‘t’ kecil.

Bagi saya, tidak ada manusia yang tidak ber’tuhan’. Bahkan Hitler pun bertuhan. Ia mengatasnamakan tuhan dalam setiap pembantaian terhadap bangsa Yahudi. Seorang atheis pun meyakini sesuatu. ‘tuhan’nya orang atheis adalah ketidakpercayaannya itu. Pada kesimpulan akhir hidupnya, seorang atheispun menemukan ada awal penciptaan. Ada yang menciptakan, meski, menurut mereka, itu bukan ‘tuhan’.

Untuk mereka, judul di atas tidak akan ada masalah. Toh judul di atas menyinggung ‘tuhan’ yang menurut mereka ‘tidak ada’.

Bagaimana dengan orang-orang beragama? Benarkah manusia dapat menciptakan Tuhan? Bila benar tuhan diciptakan oleh kita, berarti ia tidak layak di sebut tuhan lagi?

Bila benar tuhan diciptakan oleh kita, berarti ia tidak layak di sebut tuhan lagi.

Tapi bukankah itu yang seringkali kita perbuat? Kita menciptakan tuhan kita sendiri. Ambil contoh, saya orang Kristen. Saya seringkali menciptakan tuhan saya, yang, ia dapat ‘menghapus semua dosa saya.’ Padahal, Bible berkata, ada dosa yang tidak terampuni.

Pernah pula, saya menemukan kawan saya berkata, " ‘tuhan’ pasti mengampuni orang murtad yang bertobat." Kemudian saya tanya, bagaimana tentang ayat yang berkata orang murtad tidak mungkin diampuni?

Jawaban yang membuat saya tersenyum menyeringai, adalah pertanyaanya, "O ya? Ayat yang mana?"

Kawan saya itu adalah seorang pemimpin rohani. Entah mengapa, saya tidak percaya ia tidak tahu ada ayat yang seperti saya sebutkan.

Bukankah kadang beberapa pemimpin pasang wajah ‘pura-pura’ tidak tahu? Padahal sebelumnya mereka pasang badan seolah mereka tahu segala jawaban.

Ibrani 6:4-6

6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Bagi saya, tidak seharusnya seseorang, seberapa tinggipun pengetahuannya tentang Allah, mengklaim ia tahu kebenaran. Menurut saya, inilah akar perdebatan-perdebatan bodoh. Inilah akar dari perselisihan agama. Karena, imajinasi setiap orang, manifestasi pengalaman spiritual maupun interpretasi Firman Tuhan yang terbatas, dapat berbeda-beda. Parah, bila hal itu diklaim sebagai kebenaran. Padahal, itu adalah interpretasi dari kebenaran asalnya. Itu adalah ‘data’ sekunder, yang disarikan dari data aslinya. Bagaimana bila ada beberapa inti kebenaran yang karena kecelakaan pulsa-pulsa elektris di otak kita, menjadi hilang, rusak, atau berubah makna?

Mengapa pula pengalaman spiritual menjadi ‘tuhan’ yang diburu? Fenomena-fenomena ajaib, kita memburunya. Sedangkan orang yang mengalami pengalaman spiritual yang berbeda, bahkan bisa jadi berlawanan, juga menglaim pengalamannya paling benar?

Tidak bisakah kita kembali ke intinya?

Bahwa Tuhan yang saya kenal, adalah benar Tuhan, jika kepala saya tidak mampu mengenalnya, dengan pengetahuan saya, dengan doktrin saya, dengan manifestasi saya, dengan tafsiran saya.

Dan, tidak bisakah kita kembali ke intinya, bahwa tidak ada seorangpun yang berhak berkata ‘orang ini akan diampuni, orang itu tidak’, ‘kamu pasti diampuni’, ‘dia masuk surga’, dsb, dan menganggap itu adalah kebenaran? Atau, kita berkata seolah itu adalah benar?

Kalaupun kita harus mengatakannya, jauh di dalam hati, kita tahu bahwa hanya Tuhan yang tahu.

Berpikirlah, bahwa bila Firman Allah menyebut ‘kamu’, itu berarti kamu, bukan orang lain. Bila Alkitab berkata kamu, maka harus kamu yang melakukan.

Only God who knows

Only God who knows

Only God who knows

Amen

love is blind

April 4th, 2008 by vickyandrew

love is blind

it doesn’t see, it feels

it doesn’t react, it creates

it doesn’t need light, it enlight

it doesn’t walk alone, it need guidance

you make me feel

you make me be creative

you make me bright

you give me guidance

you are my love

25 days, 25 cents, 25 sins

April 2nd, 2008 by vickyandrew

25 hari saya ikut-ikutan menjadi surveyor Jawa Pos Institute of Pro Otonomy. Kenapa ikut-ikutan? Karena saya memang hanya ikut-ikutan. He he he…

Saya kok yakin beberapa teman yang pernah tahu saya, berpikir saya melakukan perjalanan 25 hari keliling 9 kota Jawa Timur itu hanya untuk uang. Beberapa mungkin memanfaatkan ‘pemikiran’ itu untuk dijadikan bahan kotbah, ‘jangan seperti Vicky…’, dan bahwa ‘di dunia, beberapa orang akan terjebak ‘money pressure”.

Tapi saya juga yakin, beberapa orang yang kenal saya tidak akan berpikir demikian. Apalagi memanfaatkan momen ini untuk dijadikan cerita ‘momen kegelapan seseorang yang di luar Tuhan’. :)

Yang pertama, saya tidak di luar Tuhan. Kenapa? Karena mereka yang bilang saya di luar Tuhan, setiap harinya berkata dalam hati mereka dan kotbah mereka bahwa dunia ada dalam kendali Tuhan. Jadi, bagaimana saya yang ada dalam ‘dunia’ bisa berada ‘di luar Tuhan’? Saya tidak mengerti.

Yang kedua, saya tidak melakukan ini untuk uang. Atau, saya tidak melakukan ini karena ‘money pressure’. Atau, saya tidak melakukan ini untuk menukarkannya dengan ‘hadirat Tuhan’, ‘tempat di mana orang Kristen menghakimi orang lain’.

Yang ketiga, tidak ada pembelaan diri, selain bahwa saya masih Kristen. Masih ada kerinduan saat saya melewati gedung-gedung ‘gereja’. Ada getar saat saya melihat tanda salib di depan tiap gedung gereja itu. Kenyataan bahwa banyak kepahitan dalam hati, tidak menutup rasa rindu saya.

Kenyataan bahwa saya menikmati 25 hari itu, sama seperti teman-teman saya yang suci-suci menikmati hari-hari aman mereka dalam komunitas.

Kenyataan bahwa saya menikmati perjumpaan dengan tokoh-tokoh masyarakat, anggota DPRD, anggota LSM, pengurus partai, atau ketua RT; sama seperti kawan-kawan suci saya menikmati pertemuan dengan pembicara KKR.

Saya melakukan perjalanan 25 hari, salah satunya, adalah karena saya mencari diri saya. Mencari bayangan diri. Saya merasa banyak masa muda saya hilang dalam kemunafikan. Saya yang munafik. Saya yang menipu diri sendiri. Dulu saya yang memutuskan untuk tinggal dan menipu diri sendiri. Begitu saya memutuskan untuk keluar, saya memilih berlari membebaskan diri. Saya yakin diri saya ada di luar sana, entah di mana. Yang pasti, bukan dalam bentuk kata-kata indah.

Bukan dalam keyakinan palsu. Bukan dalam tekanan penundukan diri yang palsu. Saya memilih untuk tidak menundukkan diri pada kemunafikan lagi. Dan untuk itu saya kehilangan gambaran atas diri saya yang sudah terbentuk beberapa tahun ini. Kini, saya mencari bentuk baru diri saya.

25 hari, saya belum menempuh sedikitpun dari perjalanan tersebut, meski saya telah melakukan banyak. Namun saya yakin Tuhan akan menuntun saya.

Saya tidak berdoa. Setidaknya, saya tidak berdoa untuk orang lain, namun kemudian menghakimi orang tersebut dalam hati saya. Saya tidak berdoa, namun saya berharap. Mengambil satu saja di antara 3 hal utama; iman, pengharapan, dan kasih. Saya berharap, bukan untuk tetap ‘baik-baik’ saja ’seperti sekarang’. Saya berharap, tekanan-tekanan menjaga saya tetap dalam jalan rencana Tuhan. Sejak pertama ‘tahu’ Tuhan, saya berharap Tuhan memaksa saya ada dalam jalanNya, rancangan besarNya. Baik atau buruk.

Itu doa saya. Mungkin ada teman-teman yang pernah dengar. Bahwa 5 tahun yang lalu saya pernah berdoa, ‘Tuhan, paksa aku’, tepat persis kata-per-kata. Itu pengharapan terbesar saya. Bukan agar saya melewati 25 hari berikutnya tanpa dosa. Tapi agar rancangan Tuhan atas saya dipenuhi, dengan pekerjaan Tuhan saja dilaksanakan.

Tidak Pro Rakyat

March 27th, 2008 by vickyandrew

Sekarang ini kan lagi musimnya kebijakan-kebijakan pemerintah tidak populis. Banyak sekali contohnya, yaitu konversi Mitan-Gas, Rencana pembatasan subsidi BBM, rencana ‘kenaikan terselubung’ tarif listrik, dsb.

Kebijakan-kebijakan tersebut pro rakyat atau tidak, ada banyak sudut pandang untuk melihatnya.

Yang pertama, masyarakat terbiasa dengan mind-set country to serve, bukan to serve country. Mind-set dari mana? Jelas dari Orde baru, di mana rakyat dimanjakan dengan utang luar negeri. Mana ada rakyat mau tahu dengan kondisi ekonomi bangsa yang bergantung pada utang-utang dalam bentuk dolar? Yang penting mereka bisa dapat minyak/bensin sangat murah yang ‘discount’nya diambil dari subsidi pemerintah. Padahal, begitu rupiah melemah terhadap dolar, bisa diduga, utang-utang itu langsung berlipat-lipat nilainya. Dengan mind set ini, rakyat terbiasa hidup mewah. Lihat saja, yang betah naik angkutan umum kan hanya mereka yang tidak mampu beli kendaraan sendiri untuk dipakai berangkat kerja/sekolah/kuliah/keliling kota.

Namun, dari sisi pandang lain, memang kebijakan-kebijakan ‘penyesuaian’ itu tidak dapat ’sesuai’ dengan kondisi ekonomi sebagian besar rakyat kita. Indikatornya? Yang terekspos adalah gizi buruk, bahkan ada rakyat yang mati kelaparan! Mau bilang angka kemiskinan berkurang? Turun ke rumah-rumah mereka yang kelaparan dulu!

Jadi, bagaimana solusinya? Jelas, upaya-upaya penyelamatan jangka pendek dapat menyedot anggaran yang sangat besar, sedangkan upaya-upaya jangka panjang berarti membiarkan jarum jam turunnya bantuan riil berdetak lebih lama sementara jarum jam hidup sebagian masyarakat tinggal sedikit saja batas waktunya.

Yang dibutuhkan rakyat adalah pekerjaan. Yang dibutuhkan rakyat adalah bahan pangan murah. Yang dibutuhkan rakyat adalah perbaikan gizi. Yang dibutuhkan rakyat adalah sekolah, sehingga menambah sedikit celah untuk mereka bisa bertahan hidup di tengah pertarungan ketat perebutan tahta mulia sebagai minimal buruh kapitalis.

Kita yang dapat mengakses internet, dapat saja berkata, sekarang bukan saatnya kita mengeluh, namun berbenah. Mengapa? Karena kita bisa mengakses internet. Maksud saya, walaupun kita merasa tertekan, masih ada cukup ruang di belakang kita untuk kita mundur sedikit untuk dapat bertahan hidup. Bagaimana dengan mereka yang ada di tepi jurang? Saat terdesak, bila mereka tidak mau mati, saya yakin mereka akan menggunakan belatinya untuk mencari celah agar dapat maju, menyesak di antara sesama mereka yang mencoba bertahan hidup.

Saatnya berdoa. Lebih mulia lagi, saatnya kita memberi tempat untuk mereka untuk dapat hidup. Inilah mind set to serve country.

Wet Sampang

March 27th, 2008 by vickyandrew

Kota kedua di Madura yang saya datangi adalah Sampang.
Di Sampang, saya menginap di rumah seorang teman jauh, dan bermalam bersama 5 orang anggota tim lainnya di seubah mushola keluarga yang menampung kami.

Rumah itu sangat sederhana, musholanya pun bukan beralas keramik. Kami berenam, ditambah satu atau kadang dua orang tuan rumah tidur di atas hamparan tikar dan permadani. Saking sederhananya, bila hendak ke kamar mandi saat malam, tidak akan ada penerangan sama sekali. Airnya pun diambil dari sumur. Di dalam bak mandi, ada ikannya.

Hari pertama, praktis kami hanya menghabiskan malam dengan merekap data survey kota sebelumnya, meski lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain remi. Sambutan yang ramah langsung membuat saya merasa di rumah.

Hari kedua di sampang, kami langsung berkeliling kota mencari responden. Di sampang, saya dan seorang teman kebagian responden dari ‘pendidikan’ (guru/tentor) dan LSM. Rencananya, hari itu kami habiskan jatah 15 orang reponden dari pendidikan. Namun, sayang ternyata hari itu hari libur sekolah, semua sekolah tutup. Jadilah kami diantar tuan rumah mencari teman-teman seprofesinya, guru. Belum habis target, kami bertiga sudah pergi ke pantai ‘Camplong’ yang tidak seberapa besar. Di daerah itu kami mendapat 2 orang responden guru. Sorenya, langsung ke Pasar ‘Tanjung’, mencari ikan segar. Kami membeli 5 ekor Ikan Kakap yang lumayan besar, ditambah nus (cumi-cumi???). Asyiknya, diberi lagi bonus 2 ikan kakap, jadi total 7 ekor.

Malamnya, kami tidak merekap data sama sekali, karena sibuk membakar ikan yang dibeli.

Hari ketiga di Sampang tidak terlalu seru, sama seperti hari-hari survey lainnya. Bedanya, kami terpaksa  harus tinggal di Sampang sehari lagi, karena terjebak banjir.

A place far away

March 19th, 2008 by vickyandrew

Ada tempat yang dekat, namun jauh karena pada keadaan biasa, tidak mungkin kita datangi. Seumur hidup saya tidak menyangka akan ke Madura, apalagi tinggal. Jadilah, pengalaman menyeberang ke Madura menjadi pengalaman yang asing buat saya. Terasa seperti pengantin menikmti malam pertamanya.
Saya berani berkata, tinggal 2 hari ini di kota Bangkalan, saya telah mengenal ‘iklim’ yang mungkin tidak dikenali sebagian besar penduduknya. Maksud saya, selama saya mendatangi para Tokoh masyarakat, beberapa Organisasi Masyarakat, saya sedikit tahu permasalahan politik di Bangkalan. Hanya sedikit. Ada perpecahan, yang saya temukan, yang ‘orang biasa’ tak kan pahami. Organisasi yang sama ‘nama’nya, bisa jadi saling menjelekkan di belakang. Namun, di depan saya. :)
Saya jadi penasaran, karena sebenarnya Bangkalan kota yang indah, teratur. Cewek-cewek SMA nya aduhai… Ehem… Padahal, saya menyangka madura itu pulau yang agak terpinggirkan. Mungkin, dalam beberapa hal benar, namun dalam banyak hal lainnya, di sini sangat modern. Contohnya, warnet di Bangkalan sangat jarang, di mana di tempat saya tinggal di surabaya, ada gang yang ditempati 3 warnet. Juga, ada jalan yang nomor rumahnya tidak berurutan, bahkan memiliki alamat dobel, misalnya di sini ada rumah nomer 22, tapi 20 meter di depan, ada juga rumah nomer 22. Siapa yang tidak bingung, coba?
Tapi, saya suka di sini. Saya mewawancarai penyiar radio yang senyumnya menawan hati. uh! Dan, saya juga menyempatkan ptong rambut, dan rambut dicuci pelayang yang cantik, dan modis. Asyik, kan? Saya potong rambut setengah harga dari harga di surabaya, tapi pelayanannya sangat memuaskan.
PEngalaman lainnya, saat saya mewawancarai beberapa anggota Partai Politik xxx, yang tampaknya oposan. Semua berebut menyalurkan uneg-unegnya. Saya bahkan sempat dimarahi seorang ibu yang saya wawancarai, yang emosi dengan kondisi politik kotanya. Kenapa dia emosi? Lebih karena dia takut. Katanya, di sini oposisi sangat ditekan.
Dengan identitas saya yang saya pakai selama wawancara, mungkin ada tempat-temat yang agak leluasa saya datangi. saya sempat bertemu pengurus Tamir Masjid Agung BAngkalan. Juga ketemu kepala dari sebuah organisasi agama yang berpengaruh kuat di sosial politik di Bangkalan.
Sore ini saya harus pindah kota. Namun, meskipun Bangkalan adalah kota ke-empat dari ‘tur’ yang saya jalani, Bangkalan sejauh ini yang paling berkesan.

confusion

February 5th, 2008 by vickyandrew

what a confusing confusion that confuse me who had already confused

You said yes
and make a move on your eyes
don’t know if it’s a no
you nod like you’ve already know

You said yes
easily as if life’s just a test
don’t know if it’s a no
i almost move a wrong foot to go

confusion is your faith

monochrome of a grey
fooled but take a confident say
god to you is just a play
you use his name everyday

confusion is your faith

master wong 27 jan 08

perfume attack

February 5th, 2008 by vickyandrew

perfume attack

she
woke up earlier in the morning
in a blinded body

she’s not my girl
yet she’s beautiful

she
cannot see she wants but nothing
need my custody

i think
every day i think

she’s not my girl
yet she’s in my mind

i see her walking every steps
she cannot see
she cannot walk to me
she doesn’t answer my flirting eyes

she walks by me
with morning dews on her hair
leave a descent perfume attack
she’s beatiful

she cannot see
see walks by me

and i love her
every day i saw her
i saw a queen step by
leave me a descent perfume attack

she cannot see
who bought her a beautiful flower
earlier morning everyday

she cannot see
who sent her a lovely scent she like
earlier morning everyday

she cannot see
who waited her beautiful scenting face
earlier morning everyday

she cannot see
she doesn’t reach my hands
she doesn’t answer my flirt

but she smiles

master wong 31 dec 07

Jangan aborsi dia, jangan aborsi aku

February 5th, 2008 by vickyandrew

Barangkali kita hanya manusia
Orok yang sudah bisa berjalan
Dengan tali pusar telah dipotong
Orok yang dikaruniai
Hebatnya Ibu menempuh bahaya

Memang kita hanya manusia
Embusan tangis pertama kita dulu
Rahasia yang tak pernah terusik dari gelap
Embusan bahagia, sakit, atau takjubkah
Kecil merah tak berdaya
Astaga! Kita hanya manusia

Ya, mama
Aku hidup, jangan bunuh
Napasku kelak kan bahagiakanmu mama
Gerak darahku darimu, mama

Astaga, mama
Bosankah mama 3 bulan mengandungku
Orang itu hendak ambil nyawaku, mama
Restumu hendak bunuhku, mama?
Sungguh aku ingin hidup mama
Ingin berterimakasih padamu, bawaku hidup

master wong 06 feb 08

dangerous beauty

February 5th, 2008 by vickyandrew

dangerous beauty

you played a melody
dancing fingers on that fretted neck
left out our custody
we always kiss before it begged

storm me again, beauty
if you stay all this night long
i can love you plenty
sing your name in my song

i’ll tell you one secret
it’s not my hair that must be cut
i’m not samson i’m afraid
coz you’re the reason my courage bud

need you to stay
dangerous beauty
need you to play
someday that melody

can you stay
my beauty
we will play
that melody

master wong 16 dec 07